Wednesday, 26 October 2016

Buah Manis Berjabat Tangan


Oleh : Divano R.A.A (Siswi MAS Ar-Risalah)

Assalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pembaca yang diridhoi allah swt.Dibawah ini saya akan menuliskan sedikit ulasan tentang kebiasaan dulu yang kini sudah mendekati kepunahan.Yaitu berjabatan tangan,apalagi ketika kita berjumpa satu sama lain.Akankah kebiasaan itu akan hilang?TIDAK!!! Saya tidak ingin kebiasaan itu hilang.itu sebabnya saya menulis tulisan ini,agar kita semua dapat menumbuhkan kebiasaan lamayang dulu pernah ada.

Tuesday, 25 October 2016

Setitik Cahaya di Hati yang Kusam



Oleh : Fadhil Ahmadia Warman

Pemuda itu terus melangkah, sambil menjinjing kitab kuning. Menuruti permintaan hati yang entah mau ke mana. Dia terus melangkah, menghiraukan sapaan beberapa teman yang bersisihan di jalan. Matanya membulat, menatap dengan kemarahan yang terperangkap dalam hatinya. Telinganya memerah, bibirnya berkomat kamit seperti dukun yang merapalkan mantra. Aku  akan melakukannya.

Menjadi Guru Super, Siapa Takut?


Oleh : Ali Usman

“Siapa pun mampu menjadi guru super, selama selalu istiqamah belajar kepada sang guru super hebat Rasulullah Muhammad saw.” (Abu Himmah)

Monday, 17 October 2016

7 Hal Yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua pada Fase Pertama Pendidikan Anak Usia Dini.



Reza Pratomo

Pola parenting nabawiyah mengenal 3 fase dalam tahapan pendidikan anak. Di mana fase pertama (0 – 7 tahun) anak dianggap sebagai raja, tahap selanjutnya (8 – 14 tahun) anak dianggap sebagai pembantu dan tahapan terakhir ( 15 – 21 tahun) anak dianggap sebagai sahabat atau menteri di rumah tangga orang tuanya.

Tulisan kali ini akan membahas bagaimana cara kita sebagai orang tua memperlakukan anak di fase pertama dalam tumbuh kembangnya, yaitu anak sebagai raja. Pengertian anak sebagai raja adalah dimana anak memiliki kerajaannya sendiri, yaitu bermain. Kita sebagai orang tua hanyalah rakyat jelata. Dan sang raja memiliki kekuasaan mutlak di kerajaannya.

Pesantren Sarang Penulis



Penulis: Fadil Ahmadhia Warman

Menulis adalah suatu hal yang menyangkan. Dengan menulis, kita bisa mengekspresikan seluruh gundah hati, kesenangan, kita bisa menyampaikan kepada khalayak ramai tentang pemikiran kita. Tulisan membuat suatu peristiwa menjadi lebih tahan lama.kita juga bisa memberikan pesan moral pada cerita kita, bahkan bisa menjadi penunjang hidup. Jika kita menulis dan karya kita dimuat di koran, majalah, atau online bisa dikasih honor. Perasaan yang akan dirasakan jika tulisan kita dimuat pertama kali itu adalah senang, senangnya minta ampun. Dan pastinya kita akan semangat menulis untuk hari-hari selanjutnya.

Jenuh dan Bosan Pergilah


Oleh : Ali Usman

Orang yang hidup mengekang diri dengan satu gaya atau model hidup, sudah tentu akan dilanda kejenuhan. Itu terjadi, karena jiwa manusia pada dasarnya cenderung mudah jenuh. Tabiat dasar setiap manusia adalah tidak senang berada dalam satu keadaan yang sama. Dan karena itu pula, maka Allah menciptakan banyak warna dan bentuk untuk suatu tempat, zaman, makanan, minuman, dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Ada malam ada siang, ada dataran tinggi ada dataran rendah, ada putih ada hitam, ada panas ada dingin, dan ada manis ada kecut. Keberagaman dan perbedaan ini seringkali disebut Allah dalam beberapa firman-Nya. Diantaranya Allah menyebutkan bahwa, {Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya.} (QS. An-Nahl: 69).

Say No to Lazy



Muhammad Roza, MA Ar Risalah

Experience is the best teacher,begitulah kata pepatah Inggris. Marilah kita mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu. Belajar dari sejarah dan biografi orang hebat. Adakah mereka mengisi harinya dengan bermalasan? Tentu tidak.